Keluarga Kristen : Internetisasi & Instanisasi

Bertempat di GKMI Sempakata, 27 Januari 2018, diadakan seminar tentang Iman Kristen dan Digital Instanisasi, sebenarnya seminar ini terbagi atas dua sesi, yang mana sesi pertama ditujukan untuk pemuda dan remaja sedangkan sesi kedua menyasar kaum orang tua dan umum.

Saya hanya berkesempatan menghadiri sesi kedua yang dimulai pukul 19.30 wib dan berlangsung terlambat setengah jam. Pembicara yang diundang adalah seorang praktisi IT dan Teologi dari Singapura yaitu Bapak Ang Wie Hay, M. Sc., M. Div, yang akan membawakan judul tema untuk sesi kedua yaitu Keluarga Kristen : Internetisasi & Intanisasi?.

Kesan pertama ketika melihat beliau adalah kesederhanaan yang bersahaja, dipancarkan dari kulit putih, mata sipit berbingkai lensa menunjukkan kesan darah Tionghoa yang kental. Senyum manis dan tatapan yang tegas menyembunyikan keletihan raga yang sejak pagi telah memberi seminar, suara yang sedikit pelan menyiratkan bibir sariawan dan segelas jus segar yang disuguhkan menegaskan kondisi itu.

Pak Ang panggilan akrab yang telah menandakan memulai seminar ini dengan menceritakan biografi singkat dirinya dengan bahasa medok Jawa yang menggambarkan ia adalah seorang berdarah Indonesia yang bertempat tinggal di Singapura dan mengecap pendidikan di Jepang, sudah berkeluarga dan mempunyai keluarga yang ada di Singapura.

Tak berlama-lama dalam perkenalan, Pak Ang langsung memaparkan bahan seminar malam ini walaupun waktu tidak memberi ruang untuk bercerita panjang, namun penjabaran yang penting akan dimaksimalkan, ujarnya.

Seminar ini dimulai dengan pembacaan Alkitab dalam Matius 7 : 24 – 27 tentang dua macam dasar yang diajarkan Tuhan Yesus ketika khotbah dibukit. Dari perikop itu, Bapak ini menghubungkannya dengan Keluarga, “ Keluarga yang bijaksana adalah keluarga yang membangun dasar kehidupan keluarganya beralaskan batu yang kokoh yaitu Firman Tuhan, bersendikan Alkitab dan berorentasi kepada Kristus, sedangkan Keluarga yang bodoh membangun dasar kehidupan keluarganya beralaskan pasir yang rapuh karena meletakkannya atas cara pandang dunia, teknologi, media sosial, gadget dan perubahan zaman.

Selanjutnya ia menerangkan tentang arti keluarga menurut Alkitab, Keluarga adalah organisasi terkecil yang ecil yang merupakan bentukan Allah sendiri yang bertujuan untuk menyatakan kemuliaanNya dengan menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Pak Ang sebagai sarjana IT ini juga menerangkan tentang Digitalisasi yang berkembang sekarang ini bersifat inovatif, kreatif, smart, dinamis, efesien dan instan. Sifat Digitalisasi itu juga menimbulkan efek paradok kepada kehidupan manusia. Efek itu seperti air dengan api, ujarnya dengan menatap respon pendengarnya. Ia membuat perbandingan : saat ini kecanggihan bertumbuh dengan cepat namun disisi lain kemerosotan moral munurun dengan cepat pula, selanjutnya, pembangunan gedung tinggi pencakar langit bertambah namun tingkat kesabaran manusia semakin berkurang dan rendah, ketika jalan diperlebar dan bertingkat namun keadaan itu mengakibatkan pikiran manusia semakin sempit, memikirkan diri sendiri dan egois, lalu kita sekarang memasuki era keterbukaan namun perjumpaan dengan tetangga sebelah rumahpun semakin sulit.

Teknologi internet dan digitalisasi ini juga merubah pola pikir manusia, terang Pak Ang dengan lantang. Contohnya banyak orang yang ingin menjadi kaya tetapi tanpa bekerja keras dan melalui Internet dan digitalisasi itu juga kita dapat memperoleh pengetahuan tetapi kerap kali tidak diikuti oleh etika dan pendidikan karakter. Selanjutnya kita diajarkan untuk menjadi tuan, mandiri dan kreatif tetapi tidak mengandalkan Tuhan bahkan tidak ber-Tuhan . Berpikir bahwa populer, like dan trend media adalah yang utama sehingga berbagai cara melalui Facebook, Instagram orang berlomba-lomba mencari pengikut dan like yang banyak, dengan keadaan itu orang tersebut merasa terkenal dan merasa terterima dalam dunia maya.

Media visual adalah bagian dari internet dan digitalisasi itu, baik itu berupa gambar, film, animasi dan audio, mengajak manusia itu untuk dibentuk seperti apa yang ditunjukkan dalam media itu. Tayangan visual itu meletakan suatu pondasi bahwa seorang itu dinilai dari apa yang dia miliki, dia pergunakan dan pakai. Media ini juga membuat manusia mencintai kesenangan dan kesuksesan dari materi yang divisualkan, sementara proses untuk memperoleh itu bukan menjadi prioriti, gengsi yang tinggi membuat manusia lebih memilih bungkus dari isi. Pak Ang memberi contoh tentang bungkus dan isi ini dengan bahasa yang menarik seperti : orang lebih memilih rumah yang megah dan mewah ketimbang kebahagiaan untuk tinggal didalamnya, orang lebih memilih pesta pernikahan yang besar ketimbang cinta kasih didalam rumah tangga itu, kekayaan adalah bungkus tapi isi yang benar adalah hati yang bersyukur.

Efek negatif itu juga melanda kekristenan sekarang ini, ujar pak Ang, contohnya : kondisi rohani yang lemah dan individualisme, mengecoh kegiatan rohani yang dilakukan, melayani Tuhan hanya dengan kekuatan sendiri, serta aktivitas rohani tersebut hanya bertujuan untuk memuaskan diri, serta membuat gairah rohani dalam kekristenan itu menjadi dangkal. Ibadah yang dilakukan rutinitas dan menimbulkan kebosanan, kita perlu waspada jika kita melakukan ritual ibadah itu tanpa ada perubahan hidup, maka ibadah yang kita lakukan itu adalah ibadah penyembahan diri sendiri, ucapnya dengan tegas.

Anak-anak juga dibentuk oleh trend media, terang Bapak yang hidup sederhana itu. Pembentukan itu membuat anak – anak agar menyerupai dunia melalui WA, FB, Game dan Pornografi yang dilihatnya. Karakter anak, wawasan anak berubah, sehingga dunia teknologi itu membuat semuanya transparan dalam pandangan si anak. Memutlakkan yang relatif dan merelatifkan yang mutlak, membuat anak menilai sesuatu yang seharusnya salah menjadi benar dan kebenaran menjadi kebohongan. Akhirnya si anak menteknologikan Tuhan, maksudnya jika Tuhan tidak memberi apa-apa, kenyamanan, kesenangan berkat seperti teknologi berikan maka ia tidak akan percaya akan Tuhan bahkan akan meninggalkan Tuhan. Pak Ang menerangkan hal tersebut lebih dalam dengan rumus : GOD + GOOD = GOOD, Tuhan saja tidak cukup dalam pemikiran si anak perlu tambahan yang membuat Tuhan itu menjadi baik.

Trend media itu juga begitu berpengaruh terhadapan hidup seseorang dengan pesangannya dalam sebuah keluarga, ujar pak Ang dengan senyum. Akibat yang nyata adalah keluarga sulit menerima pasangannya, memudarnya cinta, tidak realistis, tidak menerima pasangan apa adanya dan tidak berusaha melakukan sesuatu hal untuk memperbaiki keadaaan sehingga dalam merespon masalah dilakukan dengan cara yang salah pula.

Bagaimana seharusnya keluarga kristen menghadapi Internetisasi dan Instanisasi ini ?, tanya Pak Ang. Hal yang utama keluarga kristen lakukan adalah membangun suasana keluarga yang cinta Yesus, jawabnya. Selanjutnya ajarkan anak tentang Yesus sejak dini. Ajarkan Firman Tuhan agar anak tersebut tahu bagaimana hidup dan mengenal Yesus, lakukan dengan tidak jemu – jemu dan mengeluh, karena jika kita mengeluh berarti tidak akan ada perubahan dalam keluarga, tidak ada pertumbuhan iman dalam keluarga. Mempertahankan pertumbuhan iman dalam keluarga akan menimbulkan perubahan karekter dalam kaluarga, anggota keluarga lebih gampang memaafkan karena masing-masing anggota keluarga akan berupaya untuk meneladani dan menyerupai Kristus.

Bagaimana iman itu bertumbuh ? tanya Pak Ang lagi. Jawaban yang pasti adalah Pendengaran akan Firman Tuhan, Roma 6 : 17 dan 2 Tim 3 : 16, ujarnya sambil membaca kedua ayat tersebut. Pendengaran Firman Tuhan itu dilakukan dengan Pembacaan Alkitab yang disiplin dan teratur, saat teduh, ibadah keluarga, membaca buku rohani bersama anak-anak dan juga mengajarkan berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa. Utamakan dalam keluarga bukan aktivitas tetapi dialog, lanjut Pak Ang. Aktivitas adalah kegiatan bersama seperti rekreasi dan shopping, itu perlu tapi semua itu harus ada komunikasi, dialog, percakapan yang berisikan penyamaan hati dan pikiran, misi keluarga dan terpenting adalah pengajaran tentang pengenalan akan Tuhan. Dalam kitab Keluaran dikatakan ajarkan Perkataan Firman Tuhan ini berulang-ulang dan itu hanya dapat diterapkan melalui dialog yang intens dan terus menerus.

Selanjutnya Pak Ang memaparkan bahwa bukan hanya sampai mendengar Firman Tuhan saja tetapi ajarkan keluarga kita juga untuk melakukan Firman Tuhan yang telah kita pelajari ( knowing & doing). Jangan hanya didik anak kita untuk menjadi orang yang pintar, hebat dan mengejar harta duniawi ini, tapi didiklah dan kenalkan kepadanya bahwa betapa pentingnya bahagia dalam Yesus. Hidup di didalam Yesus akan membuatnya bahagia lebih dari kebahagiaan karena pengetahuan dan harta, bahkan ada kebahagiaan hidup kekal bagi orang yang percaya kepada Yesus.

Dalam keluarga kualitas komunikasi dengan Tuhan menjadi indikator yang penting dalam komunikasi dengan sesama, jika komunikasi kita dengan Tuhan baik, maka komunikasi kita dengan keluarga juga akan baik dan komunikasi kita dengan sesama juga akan baik. Tegas pak Ang.

Berkomunikasi didalam keluarga harus dilakukan dengan hati yaitu menurunkan ego, saling mengalah dan merendah, karena itu akan banyak menyelamatkan keluarga dari keruntuhan dan pertengkaran. Dalam keluarga kita harus saling mengingat bahwa tidak ada yang sempurna ( under construction ) Galatia 5 : 18 – 23. Ingatlah bahwa Tuhan menyelamatkan kita dan menerima kita apa adanya, hendaknya juga dalam keluarga kita harus menerima kelemahan masing-masing anggota keluarga dan saling mengisi kelemahan itu agar keluarga itu menjadi kokoh.

Pak Ang mengigatkan bahwa keluarga yang sehat adalah keluarga mencari titik keseimbangan, saling menyesuaikan, saling merubah diri, memperbaiki diri dan sederhana. Sebuah ungkapan bijak “ Gaya hidup yang paling glamor itu adalah kesederhanaan, sederhana itu mudah, gengsi itu mahal “. Keluarga harus belajar untuk hidup dari apa yang Tuhan katakanbukan media tampilkan, bukan teknologi anjurkan dan bukan kata orang karena hidup dari apa yang Tuhan katakan itu melegakan sedangkan yang lain akan melelahkan dan memberatkan.

Belajarlah menggunakan media, teknologi dan informasi itu dengan bijak dengan cara mengontrol diri, menahan diri dan menerapkan kata “ cukup “ dalam menggunakan gadget, untuk anak perlu dilakukan pengawasan dan selalu mengingatkan anak dalam menggunakan gadget tersebut secara terus menerus, bukan musiman dan kondisional.

Pak Ang menutup seminar ini dengan memberikan kesempatan tiga pertanyaan dari peserta yang hadir. Antusias peserta untuk mendengar begitu intens dan pertanyaan pun dilontarkan dengan lugas, kemudian Pak Ang pun menanggapi pertanyaan itu dengan jawaban yang tepat dan mengena, secara singkat dan jelas. Berhubung waktu telah larut malam maka Pak Ang mengakhiri seminar itu dengan senyuman dan gemuruh tepuk tangan dari peserta.

Itulah sedikit pembelajaran yang diperoleh dari seminar tentang Keluarga Kristen : Internetisasi & Intanisasi? Semoga artikel ini bermanfaat.

Tuhan Yesus Memberkati.

Medan, 30 Januari 2018

 

Iklan

Hujan dan salju

 

Berita kunjungan presiden Jokowi ke Afganistan menjadi topik beberapa media dikarenakan kunjungan itu berlangsung beberapa saat keamanan negara itu terguncang oleh peristiwa bom bunuh diri.

Namun dari salah satu berita yang saya kutip yaitu DW News Online mengutip kata kata Presiden Ashraf Ghani : “Kedatangan Yang Mulia tidak perlu membawa emas, tetapi membawa hujan dan salju. Hujan dan salju merupakan berkah bagi kami. Salju dan hujan tidak pernah memilih akan turun pada orang kaya atau orang miskin” .

Ketika membaca perkataan yang dilontarkan oleh seorang Presiden seperti ini, betapa dalam hikmat dan makna yang dipaparkannya, ketika saya membayangkan saya sebagai tamu dan disambut oleh pemilik rumah dengan kalimat tersebut, jelas saya akan bisu, tidak ada kata yang bisa melanjutkan kata salam seperti itu.

Saya memaknainya dengan positif,  bahwa tujuan kedatangan kita yang sederhana hanya membawa pesan damai dan sekedar menjalin persahabatan, itu seperti salju dan hujan, menyejukkan dan berguna untuk semua orang.

Walaupun natal sudah lewat, namun memaknai kedatangan Yesuspun demikian, Ia datang dalam kesederhanaan, hanya dalam sebuah kandang dan terbaring dalam palungan. Namun makna dan tujuan kedatanganNya adalah menyelamatkan semua yang terhilang.

PEMBERIAN ALLAH

img_20180118_123435-198872675.jpg

Sebagai seorang pendiri perusahaan perangkat lunak Microsoft, Bill Gates kerap disorot perihal kekayaannya. Namun, baru-baru ini, filantropis cum pengusaha tersebut menarik perhatian dunia kala dia menyumbangkan kekayaannya tersebut untuk melunasi utang Nigeria. Negara di Afrika Barat ini, sebelumnya, meminjam sejumlah besar dana untuk pemberantasan polio dari Jepang. Berkat pinjaman tersebut, Nigeria dinyatakan bersih dari polio pada 2017 lalu. Namun, utang ke Jepang itu bisa dibilang sulit tertebus mengingat Nigeria masuk jajaran negara miskin dengan penduduk miskin terbanyak di dunia. Melihat keadaan tersebut, Gates lalu turun tangan melalui lembaga nirlaba miliknya.

Pribadi dengan pemikiran sempit, akan lekas berkernyit dengan ‘kemurahan hati’ suami Melinda Gates tersebut. “Apa untungnya sih?” atau boleh jadi bakal sinis: “Pasti ada maunya lah!”

Ada orang yang memberi agar ia juga beroleh kebaikan dari Tuhan, kata manisnya imbalab untuk memuluskan proyek yang lain agar Tuhan berkenan mengabulkan.

Ada juga orang tidak terlalu begitu, namun ia berharap agar amal pemberiaannya itu sebagai korban untuk pengampunan dosanya di hadapan Tuhan, walaupun mungkin uang pemberian itu berawal dari korupsi juga.

Sebahagian orang memberi biar terkenal baik, derma dan peduli sesama.

Lalu, tidak adakah ‘kemurahan hati’ yang tidak mencari untung, atau tidak ‘pasti ada maunya lah!’ dalam kehidupan kita?

Dalam Johanes 3 : 16, karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia memberikan AnakNya Yang Tunggal……

ALLAH telah menyatakan pemberian kasih kepada dunia ini melalui Kristus Yesus dan Kira-kira apa yang diharapkan Allah dari kita sebagai imbalan dari pemberian Allah itu?

HARTA kita, apakah mampu membayar harga Kasih Allah yang telah dinyatakan melalui Kristus, seberapa besar nilai nominal harta yang pantas untuk membeli dan menukar guling Kasih Allah itu? Dunia ini milik Tuhan, Sorgapun adalah kepunyaanNya, ketika kita menilai kasih Allah dengan Rupiah, apakah ada nilai yang layak sebanding dengan itu?

Matius 16:26 (TB) Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

http://www.bibleforandroid.com/v/22456f0ff1e7

HIDUP kita, bukankah itu milik Allah yang dipinjamkan melalui nafas yang suatu saat akan ditarik kembali, bahkan untuk hidup inipun kita menggunakan waktu hidup ini untuk diri kita sendiri, bahkan tidak menghargai hidup dengan hidup semberono bahkan menyiksa dan menyakiti diri sendiri.

1 Petrus 1:24 (TB) Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur,

http://www.bibleforandroid.com/v/518a331faef0

Inilah penyebabnya dalam ke Kristenan ditekankan bahwa KEBAIKAN, PEMBERIAN tidak bisa membeli KESELAMATAN yang kekal.

Yesaya 64:6 (TB) Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

http://www.bibleforandroid.com/v/ca7cb4bd97ad

Jadi kesimpulan yang kita peroleh adalah bahwa Hidup, Uang dan Kebaikan tidak layak sebagai mahar bagi Allah, dan lagi Allah melakukan kebaikan itu tidak mengharapkan imbalan apapun dari kita, karena memang tidak ada yang bisa membalas, menilai dan meniru kasih kebaikanNya, Allah tahu siapa kita, debu dan rumput yang sementara.

Jadi apakah tidak perlu berbuat baik? , sangat perlu dan harus, karena dengan berbuat baik, memberi, berkorban, kita menceritakan dan menunjukkan siapa Allah kita yang telah berbuat baik bagi kita tanpa syarat, sehingga perbuatan baik itupun dinyatakan untuk mempermuliakan nama Tuhan.
Jadi orang kristen berbuat baik bukan untuk selamat, bukan agar dijawab doa, bukan agar terkenal baik, bukan mengharapkan pujian dan balasan manusia melainkan kerena ingin menyatakan bahwa Allah yang telah berbuat baik dan saya ingin memberikan kemuliaan kepada Tuhan dari perbuatan baik ini.

Kembali ke Bill Gates, apa yang motivasinya untuk berbuat demikian?.  Mungkin di dunia tiada yang tahu, kita hanya menerka dan menebak, dan kemungkinan kesimpulan yang salah akan terlontar, kelak di pengadilan terakhir segala hal akan nyata, biarlah Tuhan yang menyatakannya.

Salam Sejahtera

Doa Habakuk 1

Habakuk 1 : 1 – 17

Habakuk adalah nabi yang hidup pada jaman Raja Yosia 2 Raja-raja 22, orang Israel pada saat itu belum dibuang ke Babel. Habakuk adalah nabi yang berbeda pada saat itu, nabi biasanya menyampaikan apa yang dikatakan Tuhan, tetapi Habakuk adalah seorang nabi yang suka berdoa, dan ia mempunyai pergumulan yang dia bawa dalam doanya kepada Tuhan yaitu mengenai kejahatan, kelaliman, kekerasan, perbantahan dan pertikaian diantara bangsa Israel. Dia bertanya kepada Tuhan, Berapa lama lagikah aku berteriak dan Engkau tidak mendengar ? (Hab 1 : 1 ).Habakuk berdoa bukan untuk dirinya, habakuk berdoa bukan untuk meminta berkat saja, tapi dia berdoa untuk bangsanya. Habakuk mempunyai hati yang peka terhadap keadaan sekitarnya, dia mau bangsanya bertobat dan meninggalkan yang jahat. Dia terus berdoa, mungkin telah lama dia gumulkan, sehingga muncul doa seperti diatas, ” berapa lama lagi ? “.

Habakuk 1 : 5 merupakan jawaban Tuhan atas doanya.
Disini Tuhan menjawab doa habakuk dengan cara yang berbeda. Tuhan berkata akan kumunculkan suatu bangsa orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas, menakutkan dan suka melakukan kekerasan yang akan memperbudak bangsa Israel ini. Tuhan ingin mengatakan kepada Habakuk bahwa doa mu dijawab, tapi bukan dengan cara yang diinginkan Habakuk, tapi dengan cara Tuhan. prayer

Habakuk 1 : 13 merupakan jawaban Habakuk kepada Tuhan
Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?

Tuhan itu tidak adil, masakan Engkau berdiam diri saat bangsa pilihanmu ditindas oleh orang yang tidak mengenal Engkau ? dengan kata lain demikianlah doa Habakuk, makin senanglah orang fasik itu Tuhan ? itulah doa Habakuk.

Lalu apa jawaban Tuhan kita akan bahas pada sesion berikutnya.

Yang perlu kita pelajari dari kitab Habakuk ini,
Pertama bagaimana dengan doa kita, mari kita berdoa untuk sekeliling kita, kota kita, bangsa kita, mohon belas kasihan Tuhan atas Indonesia ini.
Kedua jawaban doa mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki, tapi itulah Tuhan yang bardaulat, dia menentukan jawaban doa yang terbaik buat kita
Ketiga bersabarlah menanti jawaban doa anda, teruslah berdoa karena setiap doa pasti dijawab Tuhan, waktunya terserah Dia.

Surat Seorang Bayi

Baby Sleep, Samuel, Puisi Bayi,
Ayah dan Ibu Tersayang

Kutulis surat itu kepada Ayah dan Ibu dengan harapan semoga Ayah dan Ibu mempertimbangkan sikap tengan menjadi orangtua sebelum aku tiba di dunia ini. Aku ini anak yang ceria. Apabila aku tiba nanti, bagi Ayah dan Ibu aku kelihatan begitu kecil. Meski penampilanku tidak seperti orang dewasa, harap Ayah dan Ibu sadari bahwa aku ini manusia.

Walau aku tidak berkata kata kepada Ayah dan Ibu, aku akan mengenal Ayah dan Ibu dengan hatiku. Aku bisa merasakan perasaan Ayah – Ibu, menyerap pikiran Ayah-Ibu. Aku kan mengenal Ayah dan Ibu lebih dari yang Ayah-Ibu sendiri kenali. Janganlah salah sangka menghadapi kebisuanku. Aku terbuka, tumbuh dan belajar dengan lebih pesat dari yang dapat ayah ibu bayangkan.

Dalam benakku akan terekam segala yang kulihat, jadi harap Ayah dan Ibu memberikan keindahan untuk kunikmati dengan pandangan ku. Aku akan merekam segala yang kudengar, jadi harap berikan padaku musik dan bahasa lembut dan manis yang memberitahukan padaku betapa aku ini disayangi. Berikan aku keheningan untuk mengistirahatkan telingaku, Aku akan menyerap segala yang kurasakan jadi aku berharap Ayah – Ibu rangkumkan kehidupan kita dalam cinta kasih.

Aku menunggu dengan sabar, menunggu saat bergabung dengan Ayah dan Ibu. Aku begitu bahagia, mendapat kesempatan untuk hidup. Mungkin jika Ayah – Ibu melihat aku nanti, Ayah Ibu akan ingat betapa berharganya kehidupan.

Anak Kalian yang ceria
with Love

PEMBELI ISTIMEWA

Kado, cinta, mitsubishiPada suatu hari, ketika Jepang belum semakmur sekarang, datanglah seorang peminta-minta ke sebuah toko kue yang mewah dan bergengsi untuk membeli manju (kue Jepang yang terbuat dari kacang hijau dan berisi selai). Bukan main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu jauh sederhana di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu dengan terburu-buru ia membungkus manju itu. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan manju itu kepada si pengemis, muncullah si pemilik

toko berseru, “Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya”. Seraya berkata begitu, diserahkannya bungkusan itu kepada si pengemis.

Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, ia membungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kunjungan anda”.

Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko, “Mengapa harus anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli”.

Si pemilik toko itu berkata, “Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain.”

“Mengapa lain,” tanya pelayan.

“Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat panting baginya. Karena itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya”, demikian penjelasan sang pemilik toko.

***
Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan. Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus meletakkan nilainya.

(Dikutip dari artikel, Konosuke Matsushita, Food For Thought)

Satu bukan dua

kucing, ikan, kasih
Seorang guru Sekolah Minggu bertanya kepada murid-muridnya, “Apakah firman Tuhan yang saya ajarkan selama ini sudah dimengerti semua?”

Murid-murid menjawab, “Sudah, Bu guru!”

Lalu Ibu Guru melanjutkan, “Kalau begitu, minggu depan kalian akan dites oleh Kepala Pendeta. Apakah sudah siaaaap?”

Murid-murid menjawab, “Siaaap Bu Guru!”

Maka minggu berikutnya Kepala Pendeta datang ke kelas dan berkata kepada si Ibu Guru, “Bu, hari ini merupakan evaluasi pelajaran firman Tuhan yang selama ini Ibu ajarkan. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid-murid”.

Si Ibu Guru menjawab (dengan berharap si Kepala Pendeta memujinya),”Bapak bisa lihat sendiri kalau murid-murid saya pandai-pandai semuanya”.

Kemudian Kepala Pendeta bertanya kepada murid-murid, “Apakah kita boleh mencuri?”

Murid-murid menjawab, “Tidak boleh, Pak, sebab dilarang di dalam Hukum Taurat!”

Si Ibu Guru senyum-senyum senang.

Lalu si Kepala Pendeta melanjutkan, “Apakah kita boleh membunuh?”

Murid-murid menjawab, “Tidak boleh Pak, sebab itu juga dilarang didalam Hukum Taurat!”

Si Ibu Guru semakin bersemangat tersenyum.

Kepala Pendeta semakin penasaran dan bertanya lagi, “Nah, sekarang kalau kalian punya kucing di rumah lalu buntutnya kalian potong, berdosa nggak kalian?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, murid-muridnya berpikir keras karena buntut kucing yang dipotong bukan berarti mencuri dan kucingnya tidak mati berarti tidak membunuh. Kelas menjadi hening …Tiba-tiba salah satu murid berdiri dan menjawab dengan suara nyaring,”Berdosa, Pak!”

Si Kepala Pendeta bertanya, “Kenapa menurut kamu berdosa?”

Si murid menjawab, “Sebab di dalam Matius 19:6 tertulis, ‘Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Sebab apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia’!”

WAKTUNYA TUHAN

Dalam kitab Pengkhotbah 3 : 1- 11 dijelaskan tentang realita kehidupan ini, WAKTU suatu yang pasti akan dimiliki oleh tiap orang, namun WAKTU itu diserahkan sepenuhnya kepada tangan kita, untuk apa waktu itu digunakan.

Banyak orang menggunakan waktunya untuk bekerja, ia bekerja siang malam hanya untuk suatu tujuan yaitu uang, atau mungkin untuk mencapai suatu karir atau ambisi, ada juga orang menggunakan waktunya untuk dirinya sendiri, apapun dalam hidupnya untuk kesenangannya saja, waktu itu digunakan untuk tidur, makan, santai menikmati kemewahan dunia ini, dan bermacam – macam cara orang lain menggunakan waktu tersebut.

Dari ayat 1 dijelaskan bahwa : SEGALA SESUATU ADA MASANYA, apapun dibawah langit ini ada waktunya. Ini menerangkan bahwa ada Tuhan yang menentukan waktu – waktu manusia itu.

Ada yang mengatakan bahwa kehilangan terbesar di dunia ini adalah KEHILANGAN JIWA, itu kekal adanya dan kehilangan kedua yang terbesar di dunia ini adalah KEHILANGAN WAKTU, baru kehilang kesehatan dan keluarga.

Firman Tuhan berkata bahwa hari hari itu atau WAKTU ITU ADALAH JAHAT, karena waktu itu tidak bisa diputar kembali. di saat ia berlalu maka berlalulah ia, kita tidak bisa memutar ulang waktu yang telah lewat,

Dalam ayat 2 -8 pengkhotbah mencoba mendetailkan penjabaran tentang waktu tersebut, ada waktu lahir, ada waktu meninggal, ada waktu tertawa ada waktu bersedih, semua yang dijabarkan itu berlawanan keadaannya. itulah kehidupan kita. Semua yang dijabarkan sang pengkhotbah menerangkan bahwa semua yang terjadi itu adalah SEMENTARA. Tidak mungkinlah kita terus tertawa, pasti ada waktunya kita menangis, gak mungkinlah kita terus berdiam diri, pasti ada waktunya kita bicara. demikianlah seterusnya, hingga pengkhotbah mengajari kita bahwa apapun dalah kehidupan kita ini SEMENTARA.

Dalam ayat 9 – 10 dikatakan apakah untung nya ? apakah UNTUNG dari kesementaraan itu ? seperti seorang yang bekerja, pagi hingga malam ia bekerja, kumpulkan uang, lalu ada saat nya uang itu pun harus ia keluarkan kembali, jadi sebenarnya tidak ada untungnya, semua itu hanya untuk MELELAHKAN DIRI.

Namun dalam ayat 11, ada JANJI TUHAN yang indah dalam kehidupan kita yang sementara ini, ada dua janji Tuhan disana yaitu : IA MEMBUAT SEGALA SESUATU ITU INDAH PADA WAKTUNYA. Luar biasa janji Tuhan ini, disaat kehidupan kita ini sementara, saat tiada yang pasti, semua begitu cepat berubah, Tuhan berjanji apapun itu INDAH PADA WAKTUNYA, peganglah janji itu, jika itu kita pegang, kita tidak akan depresi menghadapi hidup ini, kita tidak akan berlarut dalam kesedihan yang berkepanjangan, adalah dalam kebodohan yang menyalahkan diri sendiri, kok gitu ya kulakukan ?. Semua itu mendatangkan kebaikan bagi orang – orang yang TAKUT AKAN TUHAN.

Janji Tuhan yang kedua adalah IA MEMBERIKAN KEKEKALAN DALAM HATI MEREKA. Tuhan mengerti tentang hidup manusia yang sementara ini, Dia tahu manusia ini adalah debu adanya, karena itu Ia menjanjikan KEKEKALAN pada kita. Apa kekekalan itu ? Itulah adalah KESELAMATAN JIWA kita. Kita didunia ini memang akan hidup dalam kesementaraan, untuk apa Tuhan membuat itu ? untuk MENYADARKAN kita bahwa hidup kita ini sementara dan untuk MENYELAMI PEKERJAAN YANG DILAKUKAN ALLAH, itu untuk mengingatkan kita bahwa ALLAH ITU ADA dalam apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, Dia ambil bagian dalam kehidupan kita, dengan kata lain dapat disampaikan begini ” Jalanilah hidupmu yang sementara ini bersama Ku, karena pada akhirnya nanti ada kekekalan yang menunggumu ” . Kekekalan yang dijanjikan Nya itu adalah HIDUP YANG KEKAL, yang kelak akan kita terima jika kita telah bersama-sama dengan Dia, kita orang percaya mempunyai suatu kehidupan yang lain sesudah kematian, disaat orang-orang yang belum mengenal Tuhan menganggap kehidupan sesudah kematian itu MUDAH – MUDAHAN, tapi bagi orang yang PERCAYA dan MENERIMA YESUS KRISTUS sebagai JURUSLAMAT PRIBADINYA, maka kehidupan sesudah kematian itu akan menjadi suatu KEPASTIAN.

Lalu pengkhotbah menutupnya dalam ayat 14 dikatakan bahwa apa yang dilakukan Allah TETAP ADA untuk selamanya, TAK DAPAT DITAMBAH dan TAK DAPAT DIKURANGI, jadi kehidupan kita yang sementara ini adalah KETETAPAN ALLAH atau dengan kata laia MUTLAK. Kita tidak bisa lari dari keadaan ini, harus lah menjalani kehidupan yang sementara ini, dengan apa ? Baris terakhir dikatakan supaya manusia TAKUT AKAN DIA. Itulah kuncinya TAKUT AKAN TUHAN, akan membuat kita bisa menghadapi kesementaraan hidup ini, karena dalam kesementaraan ini Tuhan akan membuat itu INDAH PADA WAKTUNYA, dan akan memberikan KEKEKALAN pada akhirnya.

Indah bukan hidup dalam Tuhan ? Kelanali RENCANA TUHAN dalam hidup kita dan HIDUPLAH dalam rencana itu, jangan diluarnya. maka semua nya akan diberikan padamu.

amin.

Dia tahu segala perkara

Sebuah ungkapan hati yang sederhana dihadapan Tuhan, berharap Dia berkenan atas hidup kita 

Dia tahu saat aku berduka….

Dia tahu saat aku membutuhkanNya

Jesus

Dia Tahu Yang Terbaik

Dia tahu saat ada air mata yang tertumpah

Dia tahu saat ada perih menahan luka

Dia tahu saat yang tepat untuk menolong

Dia tahu segala perkara

Apakah aku harus meragukan Nya ?

Aku akan selalu menyakiniNya

Walau pun perih ada disana

Karena ada janji yang indah yg dia berikan

Disaat semua itu gelap bagiku

Disaat jurang berdiri dihadapanku

Disaat tiada jalan keluar dalam hidupku

Disaat habis air mataku

Disaat aku sendiri tanpa penghibur

Disaat semuanya sibuk dengan diri sendiri

Disaat aku dan hanya diriku

Ada janji yang indah yang ia katakan

Kala semua itu

Tuhan tidak mengirim malaikat untuk menolongku

Tuhan tidak mengirim hujan untuk menghapus hausku

Tuhan tidak memberi sayap untuk terbang mengatasi deritaku

Tuhan tidak mencabut nyawaku untuk mengakhiri semuanya

Namun saat semua itu ku hadapi

Dia hanya tersenyum lalu memengang tanganku

Dan berkata “ Mari kita hadapi bersama-sama “

Itu lebih dari seribu malaikat

Itu lebih dari sejuta titik air

Itu lebih dari berlaksa sayap untuk terbang

Itu lebih dari segala nyawa yang ada didunia ini

Dan itu melebihi segala jalan keluar

Itu sudah cukup bagiku.

Sangat cukup bagiku.

%d blogger menyukai ini: